Memahami Misi Mulia Dari Asuransi Jiwa

Anda pasti pernah melihat film Mega Box Office “Titanic”. Sebuah film tentang kapal besar, mewah & angkuh yang akhirnya karam sebelum berlabuh. Coba ingat kembali bagaimana ribuan manusia tewas dan bagaimana ada segelintir manusia-manusia yang akhirnya dapat bertahan hidup ? Ya…jika Anda ingat, hanya orang-orang yang dapat duduk di perahu sekoci yang masih bisa bertahan hidup, termasuk tokoh utama Kate Winslet.

Sadarkah Anda, begitu pula rekening asuransi bekerja. Mungkin saat ini, kita merasa tubuh kita baik-baik saja dan bahkan terlalu yakin akan baik-baik saja sampai kita menutup mata. Perahu sekoci mungkin terkesan tidak terlalu penting, ya tidak akan menjadi penting jika kapal memang dapat berlabuh sampai ke tujuannya. Bagaimana bila tidak? Relakah kita tenggelam begitu saja? Tunggu! Nyawa terlalu berharga untuk dipertaruhkan bagi kita yang merasa perahu sekoci kurang penting, sehingga berani mengambil resiko untuk berlabuh tanpanya.

Asuransi Jiwa

Apa yang Anda pahami mengenai asuransi jiwa? Ketika berbicara mengenai asuransi jiwa, ada saja mulut-mulut sinis berkata “Aaah…asuransi jiwa mah uang buat orang mati” atau “Ngapain beli asuransi jiwa, mesti tunggu mati dulu baru bisa menikmati uangnya.” Miris dan mengelus dada jika mendengar kalimat seperti itu. Tapi tak apa, karena dulu ketika saya masih menjadi orang yang awam asuransi, pikiran negatif seperti itu juga sempat terlintas dalam benak saya. Sekarang mari kita telaah fungsi mulia asuransi jiwa yang sesungguhnya.

Bagi mereka-mereka yang bukan tulang punggung keluarga (single maupun menikah), asuransi jiwa berfungsi sebagai uang yang akan akan membayar segala biaya-biaya akhir, mulai dari cicilan kartu kredit, cicilan motor, cicilan lainnya, hutang kepada saudara ataupun teman, juga untuk biaya pemakaman. Jika mereka meninggal, semua cicilan maupun hutang tersebut harus tetap dibayar bukan? Nah jangan sampai menyusahkan orang tua, saudara maupun suami untuk membayar segala macam cicilan atau hutang.

Bagaimana dengan biaya pemakaman ? Jangan anggap sepele hal yang satu ini. Ada yang sudah tahu berapa harga tanah pemakaman, biaya kremasi, biaya tahlilan, biaya ngaben, biaya pembacaan doa, dsb terkait meninggal dunianya seseorang ? Nah, ada baiknya mulai cari tahu sedikit-sedikit ya supaya ketika hari baik itu tiba, kita tidak menyusahkan keuangan siapapun untuk memiliki tempat peristirahatan terakhir.

Dan orang-orang muslim yang akan meninggal dunia di antara kamu dan menggalkan isteri, hendaklah berwasiat untuk isterinya (yaitu) diberi nafkah hingga setahun lamanya….

Kemudian mari bicara mengenai mereka-mereka yang merupakan tulang punggung keluarga (single maupun menikah). Boleh dikatakan asuransi jiwa merupakan sesuatu yang sangat mutlak mereka miliki. Jika setiap bulannya seorang tulang punggung keluarga memberikan uang bulanan 5 Juta Rupiah untuk biaya hidup sehari-sehari keluarganya, maka uang sebesar itu seharusnya tetap ada untuk menjamin kelayakan hidup keluarganya jika ia harus dipanggil terlalu dini oleh Sang Pencipta. Tanpa asuransi jiwa, keluarga yang ditinggalkan akan cukup menderita bahkan kehidupan sosial mereka tidak jarang akan terganggu.

Jika seorang suami meninggal terlalu dini, maka seorang ibu rumah tangga baik yang bekerja maupun full time mommy harus banting tulang sedemikian rupa untuk memenuhi seluruh biaya rumah tangga sendirian. Hal tersebut tentu akan mengurangi kuantitas dan kualitas waktu untuk mengasuh anak-anak. Tidak jarang pula seorang istri terpaksa menikah lagi hanya karena mencari sosok laki-laki yang dapat membantu perekonomian keluarga.

Seorang adik yang masih duduk di bangku sekolah mungkin harus mengubur cita-citanya kuliah di kampus impian jika kakaknya yang tulang punggung keluarga tidak dapat lagi mencari nafkah karena mengalami cacat tubuh atau bahkan meninggal. Tahukah Anda bahwa uang pertanggungan jiwa juga dapat dicairkan ketika nasabah asuransi tersebut mengalami cacat total & tetap. Ketika mengalami cacat tubuh, otomatis kemampuan untuk mencari nafkah tidak semaksimal dulu ketika masih normal. Jadi kata siapa asuransi jiwa baru bisa dinikmati hanya kalau sudah meninggal ?

Dari penjelasan saya mengenai fungsi asuransi jiwa di atas, sudah seharusnya uang pertanggungan jiwa yang dibeli dapat mengcover kebutuhan nasabah dengan benar.

Sering kali di lapangan saya bertemu calon nasabah yang berkata “Saya mau asuransi jiwa 100 juta Rupiah saja” atau “500 juta sepertinya cukup buat keluarga saya.” Well, cara yang paling baik pertama kali adalah menghitung dulu berapa kebutuhan uang pertanggungan jiwa yang benar-benar dibutuhkan oleh nasabah. Kedua adalah menghitung berapa premi yang akan dibayar untuk membeli jumlah uang pertanggungan tersebut. Ketiga adalah menyesuaikan budget yang dimiliki calon nasabah dengan premi yang sudah dihitung.

Asuransi Sakit Kritis

Baiklah, setelah sedikit membahas mengenai asuransi jiwa saya akan membahas mengenai asuransi penyakit kritis. Banyak orang yang belum terlalu paham mengenai fungsi asuransi penyakit kritis. Saya sering menemui orang-orang yang beranggapan bahwa memiliki asuransi kesehatan rawat inap sudahlah cukup.

Sebelumnya perlu dipahami dulu yang termasuk penyakit kritis itu apa saja. Penyakit kritis yang sering kita dengar adalah Kanker, Jantung, Stroke, Kelainan Ginjal, Transplantasi Organ, Luka Bakar, Komplikasi Diabetes, Parkinson, Alzheimer, dsb. Jika memenuhi kriteria kondisi kritis, maka uang pertanggungan akan dibayarkan secara sekaligus/lump sum. Uang tersebut akan berfungsi sbb :

1. Biaya pengobatan medis rumah sakit yang tidak tercover hanya dengan asuransi rawat inap saja.

2. Jika percaya dengan pengobatan tradisional, maka uang tersebut pun boleh saja digunakan untuk melengkapi pengobatan medis yang sedang dijalani. Sebagai tambahan informasi, banyak pengobatan tradisional yang berkredibilitas baik namun tentu biayanya juga tidak bisa dibilang murah.

3. Biaya hidup sehari-hari jika kemampuan mencari nafkah sudah terganggu akibat menderita penyakit kritis.

4. Jika ingin melakukan pengobatan keluar kota atau keluar negeri, dibutuhkan biaya akomodasi baik untuk diri sendiri maupun keluarga yang menemani.

Terkadang pola pikir manusia berjalan tanpa pertimbangan yang kurang logis. Jika baru memiliki aset berharga (rumah, mobil, pabrik, dll), kita akan dengan segera memberikan perlindungan asuransi. Sehingga jika terjadi musibah, aset berharga tersebut dapat digantikan nilai ekonominya oleh perusahaan asuransi.

Lalu bagaimana dengan diri sendiri? Terkadang kita malah lalai untuk memberikan apresiasi bagi jiwa dan tubuh sendiri sebagai aset paling berharga yang mencari penghasilan. Kalaupun telah memiliki asuransi, terkadang nilai pertanggungannya terlalu memprihatinkan untuk jiwa dan tubuh kita sendiri. Padahal jika pada waktunya, tubuh merasa lelah karena rutinitas yang kita ciptakan sehingga membutuhkan perawatan, pada waktu itulah kita semestinya mampu memberikan apresiasi pada tubuh sebagai si pencari nafkah dengan perawatan yang benar-benar maksimal, bukan seadanya!

Fahami Tujuan Asuransi

Marilah buka mata, hati dan telinga kita lebih bijak untuk menilai betapa mulia memberikan apresiasi yang layak pada jiwa dan tubuh dengan rekening asuransi. Berasuransilah selagi Anda mampu meyisihkan uang dan bertubuh sehat. Sebab ada kalimat bijak berkata :

Muda sebelum tua

Sehat sebelum sakit

Kaya sebelum miskin

Lapang sebelum sempit

Hidup sebelum mati

{H.R. Muslim}

Untuk menutup tulisan ini, satu harapan saya kepada seluruh agent asuransi yang membaca tulisan ini, mari kita sama-sama menyebarkan misi mulia asuransi yang sesungguhnya. Jangan nodai tugas mulia kita dengan membodoh-bodohi calon nasabah untuk kepentingan pribadi, karena orang tidak selamanya bodoh! Suatu hari mereka akan menemukan kebenaran dan kita hanya akan menjadi pecundang atas karir yang sudah kita bangun selama ini. Selamat berasuransi!

Sumber tulisan : Kompasiana : Mari Pahami Misi Mulia Asuransi Jiwa oleh Shelly Lansritan

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *